September 17, 2015
April 23, 2015
22
Kunaaaaa~ Long time no see you, ciee udah 6 tahun berlalu ya sejak lo unggah foto di atas. Gue Googling nama lo dan keluarlah foto zaman lo masih ababil ini ahahaha. Kayaknya lo ngga berubah yah masih aja kurus ._. Nanti cari istri yang bisa masak enak yah haha.
Well ..
As you read this post, you might think that we forgot your day. We didn't actually. We were just pretending :p
Karena bertemu lo adalah sesuatu yang spesial,
maka hari lahir lo juga adalah spesial.
Mungkin bukan lilin-lilin yang menyambut,
Bukan juga bungkusan kado menarik untuk lo simpan,
Bukan juga kami yang mengendap-endap untuk memberikan kejutan.
Jarak dan waktu menjadi pemisah untuk itu,
tapi do'a, do'a adalah satu-satunya bukti kepedulian yang tidak pudar terkurung dimensi.
Meski lo di sana dan kami di sini.
Jika bertambah umur adalah sebuah kepastian, maka menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Hari istimewa itu kini telah tiba. Tak ada seorangpun yang berani menjamin kapan kau akan berhenti menikmati hari istimewa pertambahan umurmu. Namun pastikan bahwa kedewasaanmu dalam berpikir dan bersikap adalah jaminan bagi setiap orang yang mengenalmu. Selamat hari lahir, Kuna! (:
- Rina Cahyani
Mengenal bukanlah suatu hal yang mudah, terlebih dengan orang yang benar-benar baru pertama kali ditemui.
Namun, hal ini tidak terjadi ketika pertama kali aku kenal dengan mereka.
Sesosok lelaki serta wanita yang mengayomi, mengerti dan menghargai.
Hari telah kami lewati masing-masing, dengan diri kami sendiri. Tapi tak jarang komunikasi masih berjalan, dulu, dan saat ini memang sudah jarang komunikasi itu terjadi.
Masing-masing dari kami jelas memiliki kesibukan masing-masing. Kesibukan yang jelas berbeda satu sama lain, karena memang dasarnya asal kami pun berbeda.
Sekarang ini aku ingin membahas 1 orang sosok, sesosok lelaki yang saat ini sudah beranjak semakin dewasa.
Sempat aku berpikir, orang ini adalah orang yang kurang dapat menghargai sekitar, namun ternyata aku salah.
Lelaki ini jelas sangat menghargai sekitar, seberapapun tidak jelas nya orang disekitarnya, seberapapun juga dia berusaha untuk tidak membuat orang tsb sakit hati.
Terkadang aku memang tidak suka dengan sikap nya yang terkadang tidak peka, namun menghargai ku rasa jadi salah satu sifat utama yang harus dia tampilkan ketika bersama dengan orang lain.
Sesosok lelaki yang baik, juga pengertian. Senang bisa mengenalnya.
Dia lah Husnan Rianto, yang baru saja bertambah umurnya 1 tahun.
Tidak banyak yang ku kenal dari nya, namun sejauh ini ku rasa cukup baik sifat serta sikap pada dirinya.
Selamat Ulang Tahun kak Kuna, semoga bisa terus menjadi pribadi yang pandai menempatkan diri. Semoga bertambah sholeh dan selalu istiqomah.
Tetaplah jadi lelaki yang selalu menghargai serta jadilah lelaki sholeh yang kehadirannya dinantikan oleh dia wanita-wanita sholeha. #cegitu..
Waktu kita kenal memang gak lama kak, tapi semoga silaturahim antar satu sama lain tetap terus terjaga. Semangat dalam berjuang di medan pertempuran menuju akhir yang juga merupakan awal dari sebuah perjuangan, perjuangan yang lain.
Mungkin ini tidak bisa menjadi surprise seperti yang tahun lalu kita lakukan, tapi kita yakin ini bisa menjadi kenangan yang bisa terus lo baca dan lo ingat. HBD KAK KUNA :DDD
- Lulu Auliandini Rafianida
I know, it might be strange. But hey, please just listen.
One year ago, not exactly, but that’s when we first met at our campus library. From the very first glance, I know we’ll be friends. Cause what I saw in you are: you’re friendly and fair.
I had jokes and you laughed at it. It’s nice, since not everyone understands my style, but you do. And when we were having chit-chat, even you have your own world and so do I, but we’re still getting along with each other, together with Dini and Nim.
There's something warmth in your eyes, I feel it when I look into them. Not that I have a crush on you, but I know you are really soft-hearted. I've never seen you sad or angry on something-I don't know, maybe you're just too kind or you're good in hiding your feelings. But I'd prefer the first guess: you truly are such a nice person.
I remember, when we met up discussing progress report. It was always at night. 8 PM,10 PM, till drop. You, even if you were really busy as you have so much work to do: being an assistent, your full-scheduled lectures, many more, still tried to attend our council’s agenda. What a responsible guy you are!
I remember, when you and Dini gave me a cake, we finished watching movies at cinema at 11 PM! It was, you know-I had never been out so late, like I was breaking a-good-girl rules. Hahaha. But thank you for being gentle that you got a safe taxi for us.
And, voila, here we are, a year has been passed.
We once celebrated your birthday on 20th April. Right now, you passed it again: 22 years old!
Just like one of Taylor Swift's songs: 22!
So ..
May Allah bless you, anytime, anywhere.
May your wishes come true. Hope you’ll get everything the best.
I’m, far away from you, sincerely praying. Cause we’re friends and it’s a pleasure to meet you.
Happy birthday :)
- A YEAR, Haniyya
Be happy for the rest of your life, Kuna :)
Hope you'll remember us as much as we do!
HAPPY BIRTHDAY~ Let's blow your candles, hahaha.
Januari 16, 2015
MY WATCHED MOVIES LIST
From films, we can get many things like:
1. Knowledge - from health and medical issues, politics, computer science, up to history of nations.
2. Comprehensive understandings - about human psychology. You know, when a person's being mean it might be caused by tragedies he/she experienced before.
3. Opportunity to enhance our listening ability of foreign languages - that's because I always watch movies without subtitle. Well, sometimes I use an English one, when the movie is way too complicated and complex to comprehend.
Okay, although I don't really remember all films that I've watched, this is my list:
1. Becoming Jane
A story of Jane Austen's life. PS: You might not marry someone you love. You might not know what direction life would lead you.
2. Pride and Prejudice
A story by Jane Austen. Love changes people. What you've said sometimes don't properly describe what your heart said.
3. Emma
A story by Jane Austen. Classic.
4. The Social Networks
A really cool movie. I adore Mark Zuckerberg's style: how he speaks so fast and brief like he knows everything, every possibility. I just can't stand it, because the setting takes place at Harvard University. It's really my thing.
5. The Queen
A story of Queen Elizabeth II and Tony Blair when Princess Diana died. How they dealt with all media and paparazzi. I love it, because the setting takes place in Buckingham Palace. Very private point of view, I suppose.
6. William and Kate
A story of Prince William and Catherine Middleton. How they met each other, back at University of St. Andrews.
7. Princess Diaries
Adapted from Meg Cabot's books: Princess Diaries. Really girly, I must admit.
8. Wild Child
A story about a California girl who transferred to a boarding school in England. She had to dealt with everything: school rules, room mates, and-also, enemy.
9. The Devil Wears Prada
A story about fashion industry where a no-feelings woman exists. Where appearance-thin like models and fabulous look, means everything.
10. Northanger Abbey
From Jane Austen's novel. I think it's ridiculous, I must say.
11. Sense and Sensibility
From Jane Austen's novel. It's a little bit complicated, as always Jane did.
12. Grown Ups 1
An Adam Sandler's family movie. I love how families are going together and doing fun things. But it's average.
13. Grown Ups 2
An Adam Sandler's family movie. I don't really like it, since so many big guys with tattoos and muscles there.
14. Warm Bodies
I love the idea how zombies can change back to human when they still have memories of affections.
15. Confessions (Japanese)
It's really a good cinematography. The film runs in slow motion so that we, as viewer, tensed up.
16. Orphan
I love the idea how a well-mannered and angelic little girl turned out to be a serial killer. As the truth revealed that she has hypopituitarism, a hormone disorder that stunted her physical growth.
17. Einstein and Eddington
A story about Einstein when he first published general theory of relativity which was supported by an astrophysicist Arthur Eddington.
18. The Heirs (Korean drama)
I love it because its fashion. I admire all the settings and properties, like: interior design of the house, school, and apartments, hair style of all casts, and also the wardrobe. The casts are f(x) Krystal, CNBlue Minhyuk, Lee Minho, and Kim Woobin: they are my favorites!
19. Queen Elizabeth I (documentary)
This is one of the early documentary I watched. I knew nothing about British history before watching this.
20. Amadeus
A biography film about one of genius pianists in this century.
21. Wolfgang Amadeus Mozart (documentary)
22. Inside the Body of Henry VIII (documentary)
23. Beethoven (documentary)
24. Anne Boleyn (documentary)
25. Queen Elizabeth II: A Fascinating Life (documentary)
26. Black Swan
27. Babysitters
28. The Amityville Horror
29. Medical Top Team (Korean drama)
30. Bread, Love, and Dreams (Korean drama)
31. Jewel in the Palace (Korean drama)
32. King Henry VIII (documentary)
33. Kings and Queens of England: The Tudors (documentary)
34. The Diamond Queen (documentary)
35. The Inconvenient Truth (documentary)
36. The Queen's Wedding (documentary)
37. Valentine's Day
38. The Glass House
39. Bridge of Terabithia
40. Harry Potter and the Sorcerer's Stone
41. Harry Potter and the Chamber of Secrets
42. Harry Potter and the Prisoner of Azkaban
43. Harry Potter and the Goblet of Fire
44. Harry Potter and the Order of the Phoenix
45. Harry Potter and the Half-Blood Prince
46. Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1
47. Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 2
48. Sherlock Holmes
49. Sherlock Holmes: A Game of Shadows
50. The Ugly Truth
51. Jumanji
52. Zattura
53. Lion King (animation)
54. Brother Bear 2 (animation)
55. Monsters University (animation)
56. Wreck It Ralph (animation)
57. Lucy
58. Love. Wedding, Marriage
59. Jessabelle
60. Annabelle
61. The Conjuring
62. Insidious
63. Insidious 2
64. Sorority Row
65. Percy Jackson and the Olympians: The Lightning Thief
66. In Time
67. A Cinderella Story
68. Nanny McPhee
69. Home Alone 1
70. Home Alone 2: Lost in New York
71. Home Alone 3
72. Bride Wars
73. Sorority Wars
74. Another (Japanese)
75. One Litter of Tears (Japanese)
76. Pasta (Korean drama)
77. Obstetric and Gynecology (Korean drama)
78. White Christmas (Korean drama)
79. Wedding Dress (Korean)
80. Lemony Snicket's A Series of Unfortunate Events
81. Frozen (animation)
82. Despicable Me 2 (animation)
83. Megamind (animation)
84. Confessions of A Shopaholic
85. Les Miserable
86. Karate Kid
87. Glass House: The Good Mother
88. Avatar
89. Pirates of the Caribbean: At World's End
90. Finding Nemo
91. The Da Vinci Code
92. Ice Age: The Melt Down
93. Ratatouille
94. The Day After Tomorrow
95. Slumdog Millionaire
96. Reply 1994 (Korean drama)
97. Hide and Seek
98. 27 Dresses
100. Nodame (Japanese drama)
101. The Parent Trap II
102. 16 Wishes
103. High School Musical 1
104. High School Musical 2
105. High School Musical 3
106. Princess Protection Program
107. The Notebook
108. Secrets of the Virgin Queen (documentary)
109. 500 Days of Summer
110. Every Child is Special
111. The Young Victoria
112. Coco Before Chanel
113. A Beautiful Mind
114. Mozart's Sister
115. The Duchess
116. Marie Antoinette
117. The Imitation Game
118. Bridesmaids
119. The Fault in Our Stars
120. Divergent
121. Hunger Games
For me,
when I read a book, it's like diving. Fresh and amazed.
when I read a novel, it's like flying high with all my imagination.
when I observe the nature, it's like being a little kid who lost.
when I listen to classical music, it's like dancing. Like water, like wind. Over flowing.
when I watch movies, it's like being a detective who asks: Why? Who? How? What? Where? constructing motives and alibies to reach the conclusion.
From everything.
But hey, I guess when you build the house of knowledge, it might consist of windows, doors, and also the chimney. There might be newspapers, dictionaries, movies, musics, articles on the internet, or even by just looking to the nature.
To make the house more bold, more colorful, and more beautiful for what it stands, then you need to paint the walls. You can discuss with people override their race, religion, or political preferences.
So now, have you got what I mean?
Learn from everything. Furthermore, you will be led into the deepest of wisdom.
Januari 08, 2015
Coming and Falling Slowly
“Saat itu rintik turun. Dan hangat menyelimuti kita.
Dari kepulan asap mangkukmu dan mangkukku.
Yang memecah hening adalah hanya mereka,
Tetesan hujan.
Dan hisapan kuah bakso yang menari menggoda.
Dan kamu,
Yang bertanya: Sudah siapkah engkau? Jika ada seseorang yang mengetuk pintu?
Aku mendongak dari santapanku dan tertegun: Apa?”
Aku mungkin tidak akan pernah percaya akan ada orang yang akan menikahiku tanpa sebelumnya pernah bertemu atau berinteraksi lebih dulu. Meski Ummi dan Abi adalah salah satu bukti nyatanya, aku mungkin tidak akan pernah percaya.
It might happen to them, but might not to me.
Tidak. Sampai Allah menegurku lewat kejadian malam itu. Ketika rintik memainkan melodinya.
Dan aku justru jatuh hati pada caranya. Yang benar-benar menjaga. Hatiku dan hatinya.
Dan aku justru jatuh hati pada orang yang aku tidak ketahui sosoknya. Tetapi ia menggetarkan hatiku lewat cara santunnya.
Dan aku justru jatuh hati pada orang yang aku tidak ketahui namanya. Namun ia begitu mengesankan. Dari caranya memperlakukan rasa suka.
Bukan ia yang ditundukkan. Tetapi ia yang menundukkan suka.
Hingga suka justru malu padanya.
Seperti Nabi yang pemalu. Lebih malu dari gadis pingitan.
Seperti itulah kesanku terhadapnya.
Dan aku suka. Suka pribadinya. Tanpa tahu sosoknya.
"I don't know you
But I want you
All the more for that
Words fall through me
And always fool me
And I can't react
And games that never amount
To more than they're meant
Will play themselves out
Take this sinking boat and point it home
We've still got time
Raise your hopeful voice you have a choice
You've made it now
Falling slowly, eyes that know me
And I can't go back
Moods that take me and erase me
And I'm painted black
You have suffered enough
And warred with yourself
It's time that you won." - Falling Slowly, Glen Hansard and Marketa Irglova
.. dan rintik malam itu seolah tertawa melihatku. Begitulah Allah mengajarkan untuk jatuh dengan perlahan.
Desember 01, 2014
Bertahanlah, Haniyya.
Jangan menangis.
Jangan juga berhenti.
Allah ada. Dan Allah Maha Kuasa.
Allah ada. Dan Allah Maha Penyayang.
November 13, 2014
CLEAN
The drought was the very worst
When the flowers that we'd grown together died of thirst
It was months, and months of back and forth
You're still all over me like I wine-stained dress I can't wear anymore
Hung my head, as I lost the war, and the sky turn black like a perfect storm
Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you,
I think I'm finally clean.
There was nothing left to do
And the butterflies turned to dust they covered my whole room
So I punched a hole in the roof
Let the flood carry away all my pictures of you
The water filled my lungs, I screamed so loud but no one heard a thing
Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you, I think I am finally clean
I think I am finally clean
Said, I think I am finally clean
10 months sober, I must admit
Just because you're clean don't mean you don't miss it
10 months older I won't give in
Now that I'm clean I'm never gonna risk it
The drought was the very worst
When the flowers that we'd grown together died of thirst
Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you, I think I am finally clean
Rain came pouring down when I was drowning
That's when I could finally breathe
And that morning, gone was any trace of you, I think I am finally clean
- Taylor Swift
Oktober 24, 2014
Salju Gurun (1998)
Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau di tengah himpitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.- Filosofi Kopi, Dewi Lestari
Di lingkungan yang serba serupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.
Di lansekap gurun yang mahaluas, lebih baik idak menjadi oase. Sekalipin rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu di sana-sini.
Di tengah gurun yang tertebaj, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angin malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekadar bergerak dua inci.
Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau .. berbeda.
Oktober 17, 2014
I remember.
ini gue. Orang yang lo perlakukan lebih keras dari orang-orang lain.
Dan orang yang
Ini akan jadi tulisan abstrak yang ngga berpola. But well, harus diakui ini mirip seperti realitanya: ngga begitu jelas. Samar-samar.
Ada hal-hal yang kadang kita terlalu gengsi, terlalu berat untuk diungkapkan-akibat terlalu banyak berpikir dan khawatir. Tapi kata-kata yang ngga bisa diungkapkan itu, bisa terbaca lewat sorot mata. Dan sorot mata adalah penyampai pesan yang efektif, kalau kita percaya. Sadar atau tidak, your messages have always been delivered. Entah itu pesan negatif maupun positif.
Ada hal-hal yang juga kadang cuma bisa dilakukan, tanpa pernah dikatakan, selamanya. Tapi percayalah bahwa perbuatan adalah kata-kata paling magis yang bisa mengubah dan menyentuh seseorang.
Gue ingat, akan selalu ingat ..
Malam di saat lo bilang Hany, lo itu keras. Jangan salahkan gue kalau semua orang harus menyerah menghadapi lo. Termasuk gue. sementara gue mematung dan berpikir-pikir.
Gue masih merenung-renung sampai lo menyampaikan bagian paling menusuknya Tahu kenapa? Itu karena lo ngga mau belajar dari orang.
Iya, gue tahu lo sudah sangat-amat sabar. Gue tahu lo sudah amat-sangat berusaha memperlakukan semua orang-termasuk gue, dengan cara terbaik. Dan gue tahu lo sudah amat-sangat berusaha memutuskan hal-hal dalam hidup lo dengan pertimbangan-pertimbangan terbaik. Gue paham, gue tahu, gue sadar, meski gue menyatakan dalam diam.
Dan sedikitpun, Ketua, gue ngga menyalahkan lo yang pada akhirnya menyerah menghadapi gue.
Sedikitpun tidak menyalahkan pernyataan Lo mau ngomong apa, Han? Ada yang mau lo omongin khan? Gue tahu. yang berubah menjadi Terserah lo deh, Han. Iya, Hany khan selalu benar.
Justru gue yang merasa bersalah .. Justru gue yang menyalahkan diri gue. Gue tahu lo marah. Dan gue menyesali bahwa keterlaluan sekali gue sudah membuat marah orang yang peduli.
Itulah sebabnya kenapa setiap kali kita ngobrol, selalu ada Ketua, maafin gue .. sebagai pembukaan dan Terima kasih. sebagai akhiran.
Sesuatu yang selalu lo pertanyakan dan gue cuma punya gagu atau diam untuk menjelaskan alasannya.
Dan .. Ada hal-hal yang mengungkung kita. Atau persisnya, ada hal-hal yang sengaja kita kurung.
Sesuatu itu membuat kita jadi seperti kucing dan anjing.
Sesaat bisa berantem. Diam-diaman seolah ngga kenal. Esok paginya bisa saling menyindir sarkas sambil tertawa. Esok sorenya bisa kembali mengobrol biasa. Kembali bercerita.
Karena apa? Karena ada sesuatu itu.
Sesuatu yang selalu terhenti di ujung lidah saat ingin diutarakan sehingga akhirnya kita cuma bisa bilang: Lo ngga tahu sih .. Duh gue sebenarnya pengen cerita, tapi kayaknya lo ngga usah tahu deh. Mungkin suatu saat gue akan bilang ..
Padahal kita sadar, kita sudah sama-sama tahu. Sama-sama merasa. Sama-sama paham.
Iya, meski kedengarannya aneh .. Tapi gue menikmati gaya kita untuk memahami. Maka biar, yang rahasia jadi rahasia. Yang perlu disimpan, disimpan saja.
Dengan begitu mungkin akan lebih melegakan jika suatu hari nanti kita menua dan cuma bisa duduk mengilas balik kenangan semasa di lembaga. Dengan begitu kita tidak perlu menyakiti lebih banyak hati.
So maybe,
gue bukan teman yang baik buat lo. Bukan juga sahabat. Bukan siapa-siapa.
What I'm trying to say is ..
Why we finally ended up complicated ..
Perhaps that is the best scenario ever for us to remember each other as special.
Cause I remember.
Princess In Training: Take insight about the political campaign
I said, I always want it. I have wanted this since I was in elementary school, as twelve years has been passed.
You know, when we were a child back then, everything seems so cool and it's pretty normal when you had so many dreams at that time. Because children are ought to be dreamers. Like, you wanted to be a doctor and a police at the same time when you were in kindergarten, but the next year you forgot about the doctor and became fond of actor. Or you, as in my case, wanted to be an astronout after knowing that Earth is not the only one planet in the universe and Sun is the biggest star in our galaxy and those stars we see in the night sky are probably the biggest in other galaxies out there. Then I changed it year after, starting on planning to be an interior designer as I grew up as a neat, perfectionist, and everything-which-is-orderly-and-beautifully-designed lover. Finally, after changing dreams so many times, I decided to take interest in Molecular Biology right in eight grade.
Besides, I am a girl who raised by books. My parents, as I called them Ummi and Abi, bought me so many English-translated novels which clearly describe the nature, scenery, people, culture, history, and also buildings architecture of England. And yeah, since then .. you know. I've already said it: I seriously want it. You might have no idea how I live those dreams for many years.
That leads me to love learning English whatever it takes. I use to watch English documentary films when I don't have any assignment or organizational activities in order to enhance my listening and also speaking abilities. These days, I always use my free time to go to the library in my campus. There, I borrow some of English novels and literatures and also books about Molecular Biology.
One of the novels that I'd like to read is Princess Diaries. I know, it is an easy novel so usually I require 2-3 hours to accomplish. Differed from Agatha Christie's mystery novels wich take 2 days in particular or Pride and Prejudice which may take .. forever cause it's so difficult to comprehend.
But I don't care whether it's heavy or not, whether it's bold or minor: every book has uniqueness. And back to the topic, I love how the story goes which Mia brings me in. Consists of foolish mind of a growing-up princess, who consistently worries about everything that happened from the light issues up to the serious one, which is so ME.
Lately, I'd just read Princess Diaries Volume IV: Princess In Training where Mia forced being nominated as student body president by the time when she was strived for responsibility on environmental issue in her country. So she had to train herself, becoming a good leader and speaker, for her first political campaign.
"Give me your tired, your poor Your huddled masses yearning to breath free"- HRH Princess Amelia Mignonette Grimaldo Renaldi Thermopolis, Princess Diaries Vol. IV: Princess In Training, page 265-268
That's what it says on Statue of Liberty. That's the first thing millions of immigrants to this country saw when they stopped on its shores. A statement assuring them that into this great melting pot of a nation, all would be welcome, regardless of socioeconomics status, what color hair she has, who she might be dating, whether she waxes, shaves, or goes au naturel, or whether or not she chooses to play sports.
And isn't a school a melting pot unto itself? Aren't we a group of people thrown together for eight hours a day, left to fend as best as we can?
But despite the fact that we here at Albert Einstein are a nation unto ourselves, I don't exactly see us acting like one. All I see are a bunch of people who have split off into cliques for their own protections.. and who are totally afraid to let anybody new-any of the huddled masses, yearning to breath free-into their precious, selective little group.
Which totally sucks.
History has tried and rejected many formsof government over time, including governance of divine right, something this country abolished hundreds of years ago.
And yet for some reason, at this school, the divine right of governance still seems to exist. There's a certain set of people who seem to believe they an inherent right to office, because they are more attractive than the rest of usa-or better at sports-or get invited to more parties than we do.
These are people who are at the top of evolutionary ladder. The people with the nicest complexions. The people with the bodies that are shaped most like models we see in magazines. the people who always have the hottest new bag or sunglasses. The popular people. The people who want to make you wish you were more like them.
But I'm standing here before you today to tell you that i've been there. That's right. I've been to the popular side. And guess what? It's all a scam. These people, who act as if they have a right to govern you and me, are completely unqualified for the job due to the simple fact that they don't believe in the most fundamental precepts of our nation, and that's that we are ALL CREATED EQUAL. Not a single one of us better than any other person here. And that includes an princesses who might be in the room.
Look. I'm not going to stand up here and promise you a bunch of junk you and I both know I can't deliver.
Yeah, that's what I thought. There is a real problem in this school, and that's that for too long, a group of that's in minority has been making decisions for the majority. And that is just wrong.
Actually, it's more than just wrong. It's a total violation of the principles upon which this nation was founded. As the philosopher John Locke put it,
"Government is legitimate only to the extent that it is based on the consent of the people being governed."
Are you really going to give your consent to the previliged few to make decisions for you? Or are you going to entrust those decisions to someone who shares your ideals, your hopes, and your dreams? Someone who will do her very best to make sure YOUR voice, and not the voice of the so-called popular minority, is heard?
In real life, we often hear many politicians (as well in campus organization scope) gave their constituent agreement and hope which likely ended up unoccupied. And I don't know why, even if it's like that, we people still believe in what they promise. Which is, for me, it's stupid: you know what they are talking about is useless or highly unreachable, but you still vote them to become your representative. I mean, they don't even mention about your necessity or your view-prospects. They only give attention to general things based on their idealistic opinion which they think it's the best. Come on, how can such people be our representative if they don't even care about our aspiration? How can such people be our representative when they only concern about their interests and they group?
Juni 13, 2014
Kecuali kalau, Kau benar-benar mencari ayahanda. Dan bertanya sungguh-sungguh: Mauku dan maumu apa?
Seperti berada di atas kapal yang terombang-ambing tanpa nahkoda.
Aku mual. Ingin keluar dari sini.
Sebetulnya kita ini apa?
Aku selamanya tidak percaya.
Kalau aku pantas untuk siapa,
Iya, aku penuh keraguan.
Penuh lubang.
Penuh segala hal yang buruk-buruk.
Aku sendiri tidak percaya,
Kalau suatu saat ada orang yang datang dengan penuh cinta,
Memintaku untuk menemani nahkoda.
Iya, aku sungguh sulit.
Sungguh aneh, sunggu rumit untuk sekadar ditebak.
Apalagi dimengerti.
Belum shalihah dan masih banyak kekurangan-kekurangan lainnya.
Sebetulnya kita ini apa?
Aku masih menganggapmu sebagai asing di persimpangan jalan.
Yang hanya bisa menunjuk,
Bukan sedia menuntunku berjalan.
Kecuali kalau,
Kau benar-benar mencari ayahanda
Dan bertanya sungguh-sungguh:
Mauku dan maumu apa?
Juni 11, 2014
Dalam Do'aku
Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara
Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala, dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana
Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu
Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku
Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku
Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu
- Sapardi Djoko Damono, 1989, kumpulan sajak "Hujan Bulan Juni"
Sudah lama ya ..
Tentu saja. Kau, yang selalu menulis dengan bahasa yang tidak kumengerti. Yang suka menangis sambil mengetik tombol keyboard.
Hei, jangan coba bilang kalau aku jelek. Aku memang suka menangis, kau khan tahu?
Menangis membuatmu merasa hidup bukan?
Ya.
Tanda perasaanku ada dan belum hilang sepenuhnya.
...
Ada debu di wajahmu.
Sini biar kuusap, sudah lama sekali aku tidak melihat ketulusanmu.
Kau ini ya benar-benar ..
Apa kau mencoba menghilang dari dunia?
Sampai-sampai aku tidak tahu lagi muaramu.
Lihat baik-baik,
aku di sini.
Dan inilah muaraku.
Kau adalah aku.
Dan aku adalah kamu.
November 17, 2013
Pembinaan IKM FMIPA UI: Membangun Indonesia!
Musim Pemilihan Raya (Pemira) Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI baru saja dimulai pekan ini. Begitu pula dengan Pemira di tiap-tiap fakultas termasuk MIPA. Pemilihan Raya identik dengan kaderisasi lembaga, momen munculnya nama serta wajah baru yang ikut mengisi daftar kontributor pembangun IKM FMIPA UI baik di bidang eksekutif, yudikatif, dan legislatif, baik di tingkat fakultas maupun departemen. Isu kaderisasi tersebut bersifat sangat penting dan vital sehingga harus dimiliki oleh semua lembaga termasuk lembaga legislatif seperti Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Mengapa? Karena sebuah lembaga perlu penggerak, sebuah lembaga perlu orang-orang yang bekerja secara profesional sehingga lembaga tersebut dapat terus menjadi wadah mahasiswa untuk menebar manfaat serta kebaikan kepada masyarakat. Bukankah pengabdian masyarakat adalah salah satu butir dari tridharma perguruan tinggi?
Faktanya, akhir-akhir ini sulit untuk mencari kader-kader lembaga kemahasiswaan yang memiliki profesionalitas serta kapabilitas tinggi. Bahkan, lebih buruk lagi, untuk sekadar mengisi kekosongan di jajaran pengurus saja sulit. Hal tersebut tidak hanya ditemukan di tingkat departemen maupun fakultas MIPA saja, tetapi juga di tingkat UI secara keseluruhan. Bukan karena jumlah mahasiswa UI yang semakin sedikit setiap tahun akademik baru, namun karena tingkat kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu kemasyarakatan (meliputi pendidikan, sosial, politik, dll) yang semakin menurun. Hal tersebut diperparah dengan pemadatan sistem akademik yang diberlakukan pada skala nasional.
Meskipun begitu,tersendatnya laju kaderisasi lembaga kemahasiswaan sejatinya dapat diatasi apabila pembinaan IKM FMIPA UI berjalan dengan baik, mulai dari pembinaan tingkat awal (Prosedur Penerimaan Anggota Aktif) hingga tingkat akhir. Melalui pembinaan, nilai-nilai kebangsaan, kepedulian terhadap masalah-masalah bangsa, serta kesadaran terhadap tiga fungsi utama mahasiswa dapat ditanamkan sehingga dapat menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang dengan ringan hati tergerak untuk ikut berkontribusi terhadap masyarakat.
Pembinaan sejatinya adalah hal yang sama dengan pendidikan. Melalui pembinaan, nilai-nilai luhur pengabdian ditanamkan sehingga diharapkan seluruh individu yang masuk ke dalam keanggotaan IKM FMIPA UI memiliki pemahaman bersama yang bersifat universal, tidak parsial. Pembinaan dilakukan sebagai bagian dari roda pergerakan lembaga mahasiswa untuk melahirkan kader-kader yang mengenal hakikat perjuangannya serta medan juangnya dengan baik sehingga hasil akhir yang diharapkan adalah terbentuknya IKM FMIPA UI yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Disadari atau tidak, banyak mahasiswa MIPA yang kurang menyadari pentingnya pembinaan dan kaderisasi, sebagian justru tidak tahu untuk apa kedua hal tersebut dijalankan. Hal itu mungkin terjadi akibat menurunnya kualitas penanaman nilai-nilai awal pada saat rangkaian kegiatan PPAA yang diperuntukkan untuk mahasiswa baru. Belum ada keberlangsungan transfer nilai dari mulai Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF) sampai dengan Orientasi Keagamaan dan lain-lain. Semuanya masih terkesan berjalan sendiri-sendiri dan membawa nilai masing-masing departemen saja. Didasarkan oleh realita tersebut, BPM FMIPA UI menginisiasi koordinasi semua lembaga kemahasiswaan untuk dapat bersinergi dalam sepuluh bidang Garis-Garis Besar Arah Kegiatan (GBAK) lembaga kemahasiswaan FMIPA UI. Di antara kesepuluh bidang tersebut, bidang pembinaan dan kaderisasi merupakan salah satu bidang yang mendapat perhatian lebih.
Sejak tahun 2013, IKM FMIPA UI memiliki tim pembinaan yang pembentukannya diinisiasi oleh BPM FMIPA UI sebagai lembaga penaung tertinggi dalam struktur IKM FMIPA UI. Tim tersebut bertanggung jawab untuk sinergisasi pembinaan tingkat I (untuk mahasiswa baru), tingkat II, tingkat III, serta tingkat IV (atau tingkat akhir). Menurut Surat Keputusan BPM FMIPA UI nomor 08/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13 tentang Tim Pembinaan MIPA, tugas tim pembinaan adalah sebagai berikut, yaitu 1) Menyusun rancangan Pedoman Pembinaan Mahasiswa FMIPA UI, serta 2) mengajukan rancangan ketetapan tentang Pedoman Pembinaan Mahasiswa (PPM) ke BPM. Selain itu, Tim Pembinaan MIPA memiliki wewenang sebagai berikut, yaitu membentuk Tim Koordinasi yang bertugas untuk mengarahkan dan mengawasi kinerja tim pelaksana kegiatan pembinaan dan kaderisasi mahasiswa FMIPA UI.
Tim Pembinaan MIPA mengatur merancang Pedoman Pembinaan Mahasiswa (Ketetapan BPM FMIPA UI nomor 10/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13) yang melahirkan tiga belas nilai pembinaan yang meliputi 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) akademik dan Profesi; 3) Pengembangan Diri; 4) Wawasan Berpikir Kebangsaan; 5) Pengabdian; 6) Interaksi; 7) Budaya Ilmiah; 8) Paham dan Peduli; 9) Profesional; 10) Loyalitas dan Kebanggaan; 11) Kepemimpinan; 12) Nasionalisme; serta 13) Kemahasiswaan. Ketigabelas nilai tersebut merupakan dasar untuk menjalankan pembinaan dan kaderisasi FMIPA UI. Selain itu, Tim Pembinaan juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasi pelaksanaan pembinaan IKM, seperti PSAF, Pengenalan Sistem Akademik Departemen (PSAD), Orientasi Keagaaman, MIPA Leaders Academy, dan lain-lain.
Meskipun begitu, perjuangan untuk mencetak mahasiswa FMIPA UI yang menjunjung tinggi asas profesionalisme masih panjang. Pembentukan Tim Pembinaan MIPA baru merupakan langkah awal dari perjalanan pembinaan dan kaderisasi IKM FMIPA UI yang masih panjang. Sejatinya, Tim Pembinaan tersebut harus dijaga dan diperbaiki kinerjanya sehingga performa pembinaan dan kaderisasi menjadi lebih baik. Dibutuhkan penjagaan yang berkelanjutan dalam hal pembinaan tersebut sehingga ke depannya lembaga kemahasiswaan di MIPA dapat lebih menunjukkan taringnya untuk menebarkan manfaat dan menjalankan peran pengabdian secara maksimal.
Kontribusi mahasiswa terhadap IKM FMIPA UI dan Indonesia sebetulnya tidak terbatas hanya dengan mengikuti lembaga kemahasiswaan atau berorganisasi saja, akan tetapi dalam hal akademik mahasiswa FMIPA UI juga harus memiliki kualitas profesionalisme yang tinggi sebagai calon ilmuwan Indonesia. Sehingga oleh karena itu, pembinaan dan kaderisasi IKM FMIPA UI yang dikoordinasi oleh Tim Pembinaan MIPA tidak hanya di bidang suksesi lembaga kemahasiswaan saja akan tetapi juga di bidang lain seperti kelimuan maupun seni dan olahraga.
Pembinaan dan kaderisasi sejatinya sama dengan pendidikan. Seperti halnya memajukan Indonesia, memajukan IKM FMIPA UI harus dimulai dengan kemajuan di bidang pembinaan dan kaderisasi. Pendidikan dan pembinaan adalah tombak kemajuan bangsa. Pendidikan adalah alat membangun bangsa. Membangun IKM FMIPA UI! Memajukan bangsa Indonesia!
Referensi
AD IKM FMIPA UI 2013
TAP BPM FMIPA UI nomor 08/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13
TAP BPM FMIPA UI nomor 10/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13
November 06, 2013
SEPERTI FILSUF
Oh oke, out of topic again. Sebenarnya bukan itu yang mau kubahas.
Aku suka berpikir asosiasi, membandingkan teori yang satu dengan yang lain. Klasik dengan modern. Fundamental dengan kontemporer. Dan kurasa, di antara sekian banyak teman-temanku, Amri Mushlih adalah salah satu orang yang punya frekuensi sama denganku sehingga pikiran kami cukup sering terkoneksi.
Di pertambahan umurku yang kedelapan belas tahun, ia memberiku buku. Dunia Sophie judulya. Buku tentang filsafat. Oh yeah~ aku akui, selama ini aku tidak pernah tertarik dengan hal-hal yang berbau sosial. Perlu digarisbawahi, pikiranku dulu mungkin masih sangat sempit sehingga otakku secara otomatis langsung menghubungkan kata filsafat dengan ilmu sosial. Dan aku salah besar, pada dasarnya sains modern juga berkembang karena para filsuf begitu sibuk mempertanyakan hal-hal dasar kehidupan.
Aku menolaknya sebagai hadiah dan ia hanya bilang, “Terserah kamu buku ini mau kamu apakan, disumbangkan ke perpustakaan boleh, dikasih ke orang lain juga boleh. Asal kamu janji untuk membacanya hingga dua atau tiga kali. Aku ingin kamu paham tentang pesan yang disampaikan.”
Oke, baru kali ini ada orang yang tidak tersinggung hadiahnya kutolak.
Baru kurang-lebih seratus lima puluh halaman kuhabiskan sepanjang hari ini dan ketika Amri Mushlih meneleponku pada jam sepuluh malam ini seperti biasanya, aku sudah bersemangat berbicara tentang filsafat.
Hal yang paling kusuka sejauh ini adalah bahwa seorang filsuf, bukanlah orang yang merasa bahwa ia sudah tahu segalanya sehingga ia mengajarkan orang lain dengan memberikan asumsi bahwa segala yang ia katakan adalah benar adanya. Tetapi filsuf, adalah seseorang yang tahu dan sadar akan ketidaktahuannya dan ia begitu memikirkan ketidakberdayaannya tersebut. Seorang filsuf, bukanlah mereka yang secara berlebihan mempertahankan pendapatnya, tetapi ia adalah orang yang selalu belajar dari pendapat dan sudut pandang manusia lain. Secara teori seharusnya begitu, tetapi praktikalnya manusia sering sekali menyimpang dari asas definisi.
Wow.
And you know what? Sadarkah kita bahwa gaya hidup serta berpikir orang Indonesia sudah jauh dari itu? Sehingga pendidikan kita lebih banyak bersifat satu arah dalam praktikal, bukannya dua arah yang bahkan Nabi Muhammad pun juga mengajarkan. Sadarkah bahwa pendidikan Indonesia berorientasi pada nominal bukannya nilai-nilai kebenaran yang seharusnya dipelajari dengan akal, diyakini dengan hati, serta diamalkan ke dalam setiap sendi kehidupan?
Bahkan orang yang mengakui dirinya taat kepada Allahpun, belum tentu memahami ini. Banyak dari kita yang menjalankan agama hanya karena memang peraturan agama mewajibkan seperti itu. Hanya karena orang-orang lain juga melakukan itu. Oke, kuberikan contoh. Mereka yang membayar zakat, hanya karena zakat itu merupakan rukun Islam keempat, sementara ia tidak mengerti alasan Allah menyuruh berzakat dan mensucikan harta akan lebih rendah kualitas imannya dibanding mereka yang membayar zakat karena mereka sadar betul tujuan Allah menyuruh hambaNya melakukan itu.
Sama seperti kita yang Islam hanya karena orang tua kita juga Islam. Akan berbeda dengan mereka yang terlebih dahulu susah payah mencari kebenaran dengan akal sehatnya untuk meyakini Allah serta Muhammad sebagai RasulNya. Bahkan, Allah pun menyuruh kita untuk senantiasa berpikir kritis sehingga jalan kebenaran akan berpendar terang benderang di hadapan kita.
Jika kita masih punya pikiran hanya menerima tanpa benar-benar paham dan meyakini adaya .. Lalu, apa bedanya dengan kawanan domba yang digiring begitu saja tanpa tahu arah ke mana mereka dibawa?
Sejatinya urusan agamapun seperti itu. Agama memang urusan keyakinan dan iman, tapi bukankah ia juga butuh landasan akal serta pikiran untuk menguatkan keyakinan tersebut? Meskipun memang pada akhirnya, ada hal-hal krusial tertentu yang akal manusia tidak dapat menjamahnya selain dengan keimanan tanpa syarat.
Dan aku cuma tersenyum saat Amri Mushlih bilang, “Cuma itu (pengetahuan dan pembukaan wawasan tentang filsafat) yang bisa aku kasih sebagai hadiah ulang tahunmu.”
Dan, aku suka sekali.
SEPI
Aku suka sekali bacaan semacam ini.
Jadi, aku dan ketiga teman kampusku menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu di sela-sela mengerjakan laporan praktikum Mikrobiologi. Lantai dasar departemenku lenggang, dan tampaknya memang cuma kami berempat yang berisik.
Pertanyaannya adalah:
Bayangkan bahwa kamu kembali ke masa lalu, saat kepolosan masih menghiasi wajahmu .. Saat kau tidak peduli waktu terus bermain sampai lelah, saat alam masih bersahabat .. Saat setiap pagi matahari bersinar lembut menyambut pagimu dan awan menjadi pelindung saat berlarian di lapangan. Suatu hari, kau ingin makan permen. Untuk itu, kau dengan langkah riang bersenandung mampir sebentar ke sebuah toko permen di ujung jalan. Ada banyak permen warna-warni di sana, berbagai jenis permen: lollipop, permen karet, dan lain-lain. Di antara semua permen itu, permen mana yang kaupilih? Dalam kasusku, aku menjawab: permen karet berwarna-warni yang berbentuk bulat dalam sebuah toples besar. Alasannya? Karena aku suka warnanya.
Sambil menunggu sang penjaga toko mengambilkan pesananmu, kaulihat ada sekelompok anak di luar toko yang sepertinya akan masuk. Berapa jumlah anak yang masuk ke dalam toko? Aku menjawab: lima.
Ternyata penjaga toko berbaik hati memberimu permen bonus. Berapa jumlah permen bonus yang diberikan padamu? Satu? Dua? Jawabanku: satu.
Kemudian ternyata, skenario permainan ini menyatakan bahwa kau membeli permen-permen itu sebagai hadiah untuk seseorang, siapakah dia? Sebagian orang mungkin menjawab: sahabat, adik, teman spesial .. Tapi aku menjawab: Aku beli permen ini sejak awal untuk diriku, untuk diriku! Bukan orang lain, jadi aku tidak akan memberikannya pada siapapun.
Nah, itulah jawabanku.
Hal yang paling mengejutkan adalah pernyataan dari analisis terhadap semua jawabanku yang menunjukkan betapa aku amat sangat tidak tergantung pada orang lain. Itu, sungguh, sangat benar. Aku sampai geleng-geleng kepala.
“Anda lebih suka kehidupan yang memiliki sedikit pegangan, meminta sedikit dari isi dunia dan mengharapkan hal yang sama sebagai balasannya. Pendekatan kesendirian itu berarti Anda mungkin tidak harus berbagi dengan orang lain, tapi itu juga berarti Anda tidak akan pernah memiliki orang lain untuk bisa saling berbagi.”
Tahu tidak? Kata-kata itu benar-benar menusukku. Seperti ada angin musim dingin yang kemudian masuk ke relung-relung jiwa. Mengoyak benteng pertahanan. Mempertegas gaung kekosongan. Memperjelas keberadaan sepi. Aku, untuk kesekian ratus kalinya merasa sendirian.
Di satu sisi, aku takut untuk merasakan perasaan memiliki orang lain. Di sisi lain, aku takut jika aku memang benar-benar sendirian.
Seringnya, aku menikmati itu. Bahkan keinginanku sejak kecil adalah tinggal di suatu tempat terpencil yang dipeluk oleh kedamaian alam. Aku masih punya harapan untuk bisa menerima kebisingan dunia, tapi aku semakin bertanya-tanya apakah kebisingan itu benar-benar menerima diamku.
Dan kurasa jawabannya tidak, karena nyatanya, aku tetap merasa berbeda.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa mereka sudah dekat denganku. Tapi, tidak, sesungguhnya. Aku punya banyak rahasia dan perasaan yang kusimpan rapat-rapat sampai berdebu, namun tidak pernah usang. Dan tidak ada satu orangpun yang benar-benar aku percaya untuk melihat aku sebenarnya.
Terkait dengan itu, aku jadi tidak yakin apakah kelak aku punya pendamping hidup yang menerima aku seutuhnya. Jika memang suatu saat nanti ternyata Tuhan berbaik hati mengirimkan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan: haruskah aku membawa diriku keluar? Atau aku yang membiarkan ia masuk ke dalam? Ke dalam dunia di mana cuma ada aku dan orang itu. Terbingkai oleh cinta yang damai. Terasing dari keramaian.
September 07, 2013
TENTANG G
TENTANG G
Dan akhirnya, aku baru merasa ada arti lebih atas adanya aku di dunia.
Ia dari dulu selalu jadi orang pertama yang bertanya kenapa aku menangis di pojok kelas. Selalu juga jadi orang pertama yang berusaha mengembangkan senyumku.
Ia tidak pernah beralasan untuk berbuat itu, bukan karena ingin memintaku jadi 'seseorang' untuknya. Bukan sekadar karena ingin mendekatiku. Bukan karena ingin dapat 'perasaan'ku ..
(Toh dia sudah dapat 'perasaan' gadis lain jauh sebelum dekat denganku. Dan tetap tidak mengubah 'perasaan'nya setelah ia mengenalku juga)
Entah ya, tapi mungkin ini bisa dibilang ketulusan.
Hanya saja tiba-tiba keadaannya berubah dan kini justru ia yang meminta, berbulan-bulan lalu sebelum ia benar-benar berhenti bicara. Lumpuh. Dan gersang jiwa.
Aku masih ingat, ia bilang, "Han, gue cuma mau lo yang ada di samping gue pas gue sakit. Cuma lo yang bisa."
Nyatanya, aku mungkin adalah orang terakhir yang menjenguknya. Orang terakhir yang tahu kabarnya ..
Pesan yang kudapat kemarin pagi itu seakan menegaskan kalau ia masih menungguku. Kalau kehadiranku ternyata dinanti-nantikan. Kalau ia, meskipun sudah tidak bisa lagi mengucap kata-kata, mengharap sesuatu dariku dibalik tatapan kosongnya.
Hatiku penuh cabikan rasa bersalah. Luka-luka itu di saat bersamaan ditetesi rasa haru. Seseorang membutuhkanku, seseorang-yang sudah tidak ingat hampir sebagian besar teman-temannya, mungkin masih mengingatku. Tapi .. mirisnya, itu semakin membuat perih gurat-gurat itu.
Kalau besok aku bertemu G, aku bahkan tidak tahu harus bilang apa.
Agustus 05, 2013
Langganan:
Postingan (Atom)







.jpg)