November 17, 2013

Pembinaan IKM FMIPA UI: Membangun Indonesia!


oleh Haniyya 1106011114 IKM Aktif 2011

Musim Pemilihan Raya (Pemira) Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) UI baru saja dimulai pekan ini. Begitu pula dengan Pemira di tiap-tiap fakultas termasuk MIPA. Pemilihan Raya identik dengan kaderisasi lembaga, momen munculnya nama serta wajah baru yang ikut mengisi daftar kontributor pembangun IKM FMIPA UI baik di bidang eksekutif, yudikatif, dan legislatif, baik di tingkat fakultas maupun departemen. Isu kaderisasi tersebut bersifat sangat penting dan vital sehingga harus dimiliki oleh semua lembaga termasuk lembaga legislatif seperti Badan Perwakilan Mahasiswa (BPM). Mengapa? Karena sebuah lembaga perlu penggerak, sebuah lembaga perlu orang-orang yang bekerja secara profesional sehingga lembaga tersebut dapat terus menjadi wadah mahasiswa untuk menebar manfaat serta kebaikan kepada masyarakat. Bukankah pengabdian masyarakat adalah salah satu butir dari tridharma perguruan tinggi?
Faktanya, akhir-akhir ini sulit untuk mencari kader-kader lembaga kemahasiswaan yang memiliki profesionalitas serta kapabilitas tinggi. Bahkan, lebih buruk lagi, untuk sekadar mengisi kekosongan di jajaran pengurus saja sulit. Hal tersebut tidak hanya ditemukan di tingkat departemen maupun fakultas MIPA saja, tetapi juga di tingkat UI secara keseluruhan. Bukan karena jumlah mahasiswa UI yang semakin sedikit setiap tahun akademik baru, namun karena tingkat kepedulian mahasiswa terhadap isu-isu kemasyarakatan (meliputi pendidikan, sosial, politik, dll) yang semakin menurun. Hal tersebut diperparah dengan pemadatan sistem akademik yang diberlakukan pada skala nasional.
Meskipun begitu,tersendatnya laju kaderisasi lembaga kemahasiswaan sejatinya dapat diatasi apabila pembinaan IKM FMIPA UI berjalan dengan baik, mulai dari pembinaan tingkat awal (Prosedur Penerimaan Anggota Aktif) hingga tingkat akhir. Melalui pembinaan, nilai-nilai kebangsaan, kepedulian terhadap masalah-masalah bangsa, serta kesadaran terhadap tiga fungsi utama mahasiswa dapat ditanamkan sehingga dapat menghasilkan mahasiswa-mahasiswa yang dengan ringan hati tergerak untuk ikut berkontribusi terhadap masyarakat.
Pembinaan sejatinya adalah hal yang sama dengan pendidikan. Melalui pembinaan, nilai-nilai luhur pengabdian ditanamkan sehingga diharapkan seluruh individu yang masuk ke dalam keanggotaan IKM FMIPA UI memiliki pemahaman bersama yang bersifat universal, tidak parsial. Pembinaan dilakukan sebagai bagian dari roda pergerakan lembaga mahasiswa untuk melahirkan kader-kader yang mengenal hakikat perjuangannya serta medan juangnya dengan baik sehingga hasil akhir yang diharapkan adalah terbentuknya IKM FMIPA UI yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Disadari atau tidak, banyak mahasiswa MIPA yang kurang menyadari pentingnya pembinaan dan kaderisasi, sebagian justru tidak tahu untuk apa kedua hal tersebut dijalankan. Hal itu mungkin terjadi akibat menurunnya kualitas penanaman nilai-nilai awal pada saat rangkaian kegiatan PPAA yang diperuntukkan untuk mahasiswa baru. Belum ada keberlangsungan transfer nilai dari mulai Pengenalan Sistem Akademik Fakultas (PSAF) sampai dengan Orientasi Keagamaan dan lain-lain. Semuanya masih terkesan berjalan sendiri-sendiri dan membawa nilai masing-masing departemen saja. Didasarkan oleh realita tersebut, BPM FMIPA UI menginisiasi koordinasi semua lembaga kemahasiswaan untuk dapat bersinergi dalam sepuluh bidang Garis-Garis Besar Arah Kegiatan (GBAK) lembaga kemahasiswaan FMIPA UI. Di antara kesepuluh bidang tersebut, bidang pembinaan dan kaderisasi merupakan salah satu bidang yang mendapat perhatian lebih.
Sejak tahun 2013, IKM FMIPA UI memiliki tim pembinaan yang pembentukannya diinisiasi oleh BPM FMIPA UI sebagai lembaga penaung tertinggi dalam struktur IKM FMIPA UI. Tim tersebut bertanggung jawab untuk sinergisasi pembinaan tingkat I (untuk mahasiswa baru), tingkat II, tingkat III, serta tingkat IV (atau tingkat akhir). Menurut Surat Keputusan BPM FMIPA UI nomor 08/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13 tentang Tim Pembinaan MIPA, tugas tim pembinaan adalah sebagai berikut, yaitu 1) Menyusun rancangan Pedoman Pembinaan Mahasiswa FMIPA UI, serta 2) mengajukan rancangan ketetapan tentang Pedoman Pembinaan Mahasiswa (PPM) ke BPM. Selain itu, Tim Pembinaan MIPA memiliki wewenang sebagai berikut, yaitu membentuk Tim Koordinasi yang bertugas untuk mengarahkan dan mengawasi kinerja tim pelaksana kegiatan pembinaan dan kaderisasi mahasiswa FMIPA UI.
Tim Pembinaan MIPA mengatur merancang Pedoman Pembinaan Mahasiswa (Ketetapan BPM FMIPA UI nomor 10/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13) yang melahirkan tiga belas nilai pembinaan yang meliputi 1) Ketuhanan Yang Maha Esa; 2) akademik dan Profesi; 3) Pengembangan Diri; 4) Wawasan Berpikir Kebangsaan; 5) Pengabdian; 6) Interaksi; 7) Budaya Ilmiah; 8) Paham dan Peduli; 9) Profesional; 10) Loyalitas dan Kebanggaan; 11) Kepemimpinan; 12) Nasionalisme; serta 13) Kemahasiswaan. Ketigabelas nilai tersebut merupakan dasar untuk menjalankan pembinaan dan kaderisasi FMIPA UI. Selain itu, Tim Pembinaan juga bertanggung jawab untuk mengkoordinasi pelaksanaan pembinaan IKM, seperti PSAF, Pengenalan Sistem Akademik Departemen (PSAD), Orientasi Keagaaman, MIPA Leaders Academy, dan lain-lain.
Meskipun begitu, perjuangan untuk mencetak mahasiswa FMIPA UI yang menjunjung tinggi asas profesionalisme masih panjang. Pembentukan Tim Pembinaan MIPA baru merupakan langkah awal dari perjalanan pembinaan dan kaderisasi IKM FMIPA UI yang masih panjang. Sejatinya, Tim Pembinaan tersebut harus dijaga dan diperbaiki kinerjanya sehingga performa pembinaan dan kaderisasi menjadi lebih baik. Dibutuhkan penjagaan yang berkelanjutan dalam hal pembinaan tersebut sehingga ke depannya lembaga kemahasiswaan di MIPA dapat lebih menunjukkan taringnya untuk menebarkan manfaat dan menjalankan peran pengabdian secara maksimal.
Kontribusi mahasiswa terhadap IKM FMIPA UI dan Indonesia sebetulnya tidak terbatas hanya dengan mengikuti lembaga kemahasiswaan atau berorganisasi saja, akan tetapi dalam hal akademik mahasiswa FMIPA UI juga harus memiliki kualitas profesionalisme yang tinggi sebagai calon ilmuwan Indonesia. Sehingga oleh karena itu, pembinaan dan kaderisasi IKM FMIPA UI yang dikoordinasi oleh Tim Pembinaan MIPA tidak hanya di bidang suksesi lembaga kemahasiswaan saja akan tetapi juga di bidang lain seperti kelimuan maupun seni dan olahraga.
Pembinaan dan kaderisasi sejatinya sama dengan pendidikan. Seperti halnya memajukan Indonesia, memajukan IKM FMIPA UI harus dimulai dengan kemajuan di bidang pembinaan dan kaderisasi. Pendidikan dan pembinaan adalah tombak kemajuan bangsa. Pendidikan adalah alat membangun bangsa. Membangun IKM FMIPA UI! Memajukan bangsa Indonesia!

Referensi
AD IKM FMIPA UI 2013
TAP BPM FMIPA UI nomor 08/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13
TAP BPM FMIPA UI nomor 10/TAP/BPM FMIPA UI/IV/13

November 06, 2013

SEPERTI FILSUF


Sekarang, aku ingin bercerita tentang Amri Mushlih. Entah ya? Jujur saja aku belum mampu jadi wanita shalihah yang menjaga jarak dengan laki-laki. Aku pribadi membagi makhluk Mars itu menjadi dua kelompok: cowok dan ikhwan. Oke, secara bahas dua kata itu sama-sama diperuntukkan untuk makhluk yang memiliki kromosom XY. Tapi di kamusku, cowok adalah sebutan untuk mereka yang masih hanif soal agama, sementara ikhwan untuk mereka yang kuanggap seharusnya lebih mengerti tentang hubungan lawan jenis dalam Islam. Beberapa orang mungkin menganggapku abu-abu, parsial, dan lain-lain. Tapi bagiku, ini fleksibilitas: kau tidak akan pernah bisa memperlakukan orang dengan rata, kau harus lihat seberapa jauh pemahamannya sebelum kau mengambil sikapmu atasnya. Seperti guru yang mendidik muridnya. Masing-masing anak punya pemahaman yang berbeda, akan salah ketika guru tersebut menerapkan hal yang sama dalam memperlakukannya. Itu prinsipku.

Oh oke, out of topic again. Sebenarnya bukan itu yang mau kubahas.

Aku suka berpikir asosiasi, membandingkan teori yang satu dengan yang lain. Klasik dengan modern. Fundamental dengan kontemporer. Dan kurasa, di antara sekian banyak teman-temanku, Amri Mushlih adalah salah satu orang yang punya frekuensi sama denganku sehingga pikiran kami cukup sering terkoneksi.

Di pertambahan umurku yang kedelapan belas tahun, ia memberiku buku. Dunia Sophie judulya. Buku tentang filsafat. Oh yeah~ aku akui, selama ini aku tidak pernah tertarik dengan hal-hal yang berbau sosial. Perlu digarisbawahi, pikiranku dulu mungkin masih sangat sempit sehingga otakku secara otomatis langsung menghubungkan kata filsafat dengan ilmu sosial. Dan aku salah besar, pada dasarnya sains modern juga berkembang karena para filsuf begitu sibuk mempertanyakan hal-hal dasar kehidupan.
Aku menolaknya sebagai hadiah dan ia hanya bilang, “Terserah kamu buku ini mau kamu apakan, disumbangkan ke perpustakaan boleh, dikasih ke orang lain juga boleh. Asal kamu janji untuk membacanya hingga dua atau tiga kali. Aku ingin kamu paham tentang pesan yang disampaikan.”

Oke, baru kali ini ada orang yang tidak tersinggung hadiahnya kutolak.

Baru kurang-lebih seratus lima puluh halaman kuhabiskan sepanjang hari ini dan ketika Amri Mushlih meneleponku pada jam sepuluh malam ini seperti biasanya, aku sudah bersemangat berbicara tentang filsafat.
Hal yang paling kusuka sejauh ini adalah bahwa seorang filsuf, bukanlah orang yang merasa bahwa ia sudah tahu segalanya sehingga ia mengajarkan orang lain dengan memberikan asumsi bahwa segala yang ia katakan adalah benar adanya. Tetapi filsuf, adalah seseorang yang tahu dan sadar akan ketidaktahuannya dan ia begitu memikirkan ketidakberdayaannya tersebut. Seorang filsuf, bukanlah mereka yang secara berlebihan mempertahankan pendapatnya, tetapi ia adalah orang yang selalu belajar dari pendapat dan sudut pandang manusia lain. Secara teori seharusnya begitu, tetapi praktikalnya manusia sering sekali menyimpang dari asas definisi.

Wow.

And you know what? Sadarkah kita bahwa gaya hidup serta berpikir orang Indonesia sudah jauh dari itu? Sehingga pendidikan kita lebih banyak bersifat satu arah dalam praktikal, bukannya dua arah yang bahkan Nabi Muhammad pun juga mengajarkan. Sadarkah bahwa pendidikan Indonesia berorientasi pada nominal bukannya nilai-nilai kebenaran yang seharusnya dipelajari dengan akal, diyakini dengan hati, serta diamalkan ke dalam setiap sendi kehidupan?
Bahkan orang yang mengakui dirinya taat kepada Allahpun, belum tentu memahami ini. Banyak dari kita yang menjalankan agama hanya karena memang peraturan agama mewajibkan seperti itu. Hanya karena orang-orang lain juga melakukan itu. Oke, kuberikan contoh. Mereka yang membayar zakat, hanya karena zakat itu merupakan rukun Islam keempat, sementara ia tidak mengerti alasan Allah menyuruh berzakat dan mensucikan harta akan lebih rendah kualitas imannya dibanding mereka yang membayar zakat karena mereka sadar betul tujuan Allah menyuruh hambaNya melakukan itu.
Sama seperti kita yang Islam hanya karena orang tua kita juga Islam. Akan berbeda dengan mereka yang terlebih dahulu susah payah mencari kebenaran dengan akal sehatnya untuk meyakini Allah serta Muhammad sebagai RasulNya. Bahkan, Allah pun menyuruh kita untuk senantiasa berpikir kritis sehingga jalan kebenaran akan berpendar terang benderang di hadapan kita.
Jika kita masih punya pikiran hanya menerima tanpa benar-benar paham dan meyakini adaya .. Lalu, apa bedanya dengan kawanan domba yang digiring begitu saja tanpa tahu arah ke mana mereka dibawa?
Sejatinya urusan agamapun seperti itu. Agama memang urusan keyakinan dan iman, tapi bukankah ia juga butuh landasan akal serta pikiran untuk menguatkan keyakinan tersebut? Meskipun memang pada akhirnya, ada hal-hal krusial tertentu yang akal manusia tidak dapat menjamahnya selain dengan keimanan tanpa syarat.

Dan aku cuma tersenyum saat Amri Mushlih bilang, “Cuma itu (pengetahuan dan pembukaan wawasan tentang filsafat) yang bisa aku kasih sebagai hadiah ulang tahunmu.”

Dan, aku suka sekali.

SEPI


Aku baru saja membaca Kokologi, buku karangan orang Jepang yang berisi permainan-permainan kehidupan. Setiap jawaban dapat menggambarkan karakter serta pandangan-pandangan hidup yang kita punya.
Aku suka sekali bacaan semacam ini.

Jadi, aku dan ketiga teman kampusku menyempatkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu di sela-sela mengerjakan laporan praktikum Mikrobiologi. Lantai dasar departemenku lenggang, dan tampaknya memang cuma kami berempat yang berisik.
Pertanyaannya adalah:
Bayangkan bahwa kamu kembali ke masa lalu, saat kepolosan masih menghiasi wajahmu .. Saat kau tidak peduli waktu terus bermain sampai lelah, saat alam masih bersahabat .. Saat setiap pagi matahari bersinar lembut menyambut pagimu dan awan menjadi pelindung saat berlarian di lapangan. Suatu hari, kau ingin makan permen. Untuk itu, kau dengan langkah riang bersenandung mampir sebentar ke sebuah toko permen di ujung jalan. Ada banyak permen warna-warni di sana, berbagai jenis permen: lollipop, permen karet, dan lain-lain. Di antara semua permen itu, permen mana yang kaupilih? Dalam kasusku, aku menjawab: permen karet berwarna-warni yang berbentuk bulat dalam sebuah toples besar. Alasannya? Karena aku suka warnanya.
Sambil menunggu sang penjaga toko mengambilkan pesananmu, kaulihat ada sekelompok anak di luar toko yang sepertinya akan masuk. Berapa jumlah anak yang masuk ke dalam toko? Aku menjawab: lima.
Ternyata penjaga toko berbaik hati memberimu permen bonus. Berapa jumlah permen bonus yang diberikan padamu? Satu? Dua? Jawabanku: satu.
Kemudian ternyata, skenario permainan ini menyatakan bahwa kau membeli permen-permen itu sebagai hadiah untuk seseorang, siapakah dia? Sebagian orang mungkin menjawab: sahabat, adik, teman spesial .. Tapi aku menjawab: Aku beli permen ini sejak awal untuk diriku, untuk diriku! Bukan orang lain, jadi aku tidak akan memberikannya pada siapapun.
Nah, itulah jawabanku.
Hal yang paling mengejutkan adalah pernyataan dari analisis terhadap semua jawabanku yang menunjukkan betapa aku amat sangat tidak tergantung pada orang lain. Itu, sungguh, sangat benar. Aku sampai geleng-geleng kepala.

“Anda lebih suka kehidupan yang memiliki sedikit pegangan, meminta sedikit dari isi dunia dan mengharapkan hal yang sama sebagai balasannya. Pendekatan kesendirian itu berarti Anda mungkin tidak harus berbagi dengan orang lain, tapi itu juga berarti Anda tidak akan pernah memiliki orang lain untuk bisa saling berbagi.”

Tahu tidak? Kata-kata itu benar-benar menusukku. Seperti ada angin musim dingin yang kemudian masuk ke relung-relung jiwa. Mengoyak benteng pertahanan. Mempertegas gaung kekosongan. Memperjelas keberadaan sepi. Aku, untuk kesekian ratus kalinya merasa sendirian.
Di satu sisi, aku takut untuk merasakan perasaan memiliki orang lain. Di sisi lain, aku takut jika aku memang benar-benar sendirian.
Seringnya, aku menikmati itu. Bahkan keinginanku sejak kecil adalah tinggal di suatu tempat terpencil yang dipeluk oleh kedamaian alam. Aku masih punya harapan untuk bisa menerima kebisingan dunia, tapi aku semakin bertanya-tanya apakah kebisingan itu benar-benar menerima diamku.

Dan kurasa jawabannya tidak, karena nyatanya, aku tetap merasa berbeda.
Sebagian orang mungkin berpikir bahwa mereka sudah dekat denganku. Tapi, tidak, sesungguhnya. Aku punya banyak rahasia dan perasaan yang kusimpan rapat-rapat sampai berdebu, namun tidak pernah usang. Dan tidak ada satu orangpun yang benar-benar aku percaya untuk melihat aku sebenarnya.

Terkait dengan itu, aku jadi tidak yakin apakah kelak aku punya pendamping hidup yang menerima aku seutuhnya. Jika memang suatu saat nanti ternyata Tuhan berbaik hati mengirimkan, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan: haruskah aku membawa diriku keluar? Atau aku yang membiarkan ia masuk ke dalam? Ke dalam dunia di mana cuma ada aku dan orang itu. Terbingkai oleh cinta yang damai. Terasing dari keramaian.

September 07, 2013

TENTANG G


Bogor, 7 September 8:58 PM
TENTANG G
Dan akhirnya, aku baru merasa ada arti lebih atas adanya aku di dunia.


Ia dari dulu selalu jadi orang pertama yang bertanya kenapa aku menangis di pojok kelas. Selalu juga jadi orang pertama yang berusaha mengembangkan senyumku.
Ia tidak pernah beralasan untuk berbuat itu, bukan karena ingin memintaku jadi 'seseorang' untuknya. Bukan sekadar karena ingin mendekatiku. Bukan karena ingin dapat 'perasaan'ku ..
(Toh dia sudah dapat 'perasaan' gadis lain jauh sebelum dekat denganku. Dan tetap tidak mengubah 'perasaan'nya setelah ia mengenalku juga)
Entah ya, tapi mungkin ini bisa dibilang ketulusan.

Hanya saja tiba-tiba keadaannya berubah dan kini justru ia yang meminta, berbulan-bulan lalu sebelum ia benar-benar berhenti bicara. Lumpuh. Dan gersang jiwa.
Aku masih ingat, ia bilang, "Han, gue cuma mau lo yang ada di samping gue pas gue sakit. Cuma lo yang bisa."

Nyatanya, aku mungkin adalah orang terakhir yang menjenguknya. Orang terakhir yang tahu kabarnya ..
Pesan yang kudapat kemarin pagi itu seakan menegaskan kalau ia masih menungguku. Kalau kehadiranku ternyata dinanti-nantikan. Kalau ia, meskipun sudah tidak bisa lagi mengucap kata-kata, mengharap sesuatu dariku dibalik tatapan kosongnya.

Hatiku penuh cabikan rasa bersalah. Luka-luka itu di saat bersamaan ditetesi rasa haru. Seseorang membutuhkanku, seseorang-yang sudah tidak ingat hampir sebagian besar teman-temannya, mungkin masih mengingatku. Tapi .. mirisnya, itu semakin membuat perih gurat-gurat itu.

Kalau besok aku bertemu G, aku bahkan tidak tahu harus bilang apa.

Juli 02, 2013

MENJADI LEBIH CANTIK DARI BIDADARI SURGA



Berbicara tentang wanita shalihah, aku masih jauh dari itu. Dan itu membuatku seringkali begitu malu. Persoalan hijab, yang secara fisik mudah dikendalikan, saja belum benar, apalagi hati. Terlalu abstrak, terlalu sulit untuk digenggam dan dikendalikan. Tapi, aku, hei tidak cukupkah air mata ini jadi saksi? Aku ingin jadi perhiasan dunia. Yang cemerlang, yang berharga untuk disimpan.
“Sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita shalihah.”

Tidak hanya itu, selain keindahan sosoknya digambarkan lebih indah dari jenis perhiasan dunia apapun, wanita shalihah juga memiliki kedudukan yang lebih utama dari bidadari surga. Siapa sih bidadari surga itu? Bidadari surga adalah satu diantara sekian banyak kenikmatan yang dijanjikan Allah bagi hamba-hamba yang berjuang di jalanNya.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang membatasi pandangan, yang tidak pernah disentuh oleh manusia maupun jin sebelumnya.” – QS. Ar-Rahmaan: 55—56
“Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari itu) secara langsung, lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan, yang penuh cinta (dan) sebaya umurnya, untuk golongan kanan,” – Al-Waaqi’ah: 35—38

Dua ayat di atas adalah satu di antara sekian banyak ayat Qur’an yang menggambarkan balasan bagi orang-orang yang beriman, berbuat kebajikan, dan memiliki sifat takwa. Ketika seorang muslim masuk surga, maka disediakan baginya bidadari-bidadari yang cantik dan bermata indah sebagai pasangannya. Akan tetapi jika ia memiliki istri yang shalihah, yang menjaga izzah diri dan agamanya, maka istrinya itulah yang akan menjadi pasangannya. Subhanallah, sehingga patutlah ketika dua insan yang merajut cinta untuk mengharap ridha Allah kemudian saling berdoa agar pasangannya di dunia juga menjadi pasangannya di akhirat.
Hal tersebut menegaskan bahwa seorang wanita shalihah, istri yang shalihah, lebih utama, lebih cantik, lebih layak menjadi pasangan seorang laki-laki shalih dibanding ribuan bidadari surga. Subhanallah.
Ada beberapa aspek yang membuat wanita shalihah berbeda dari wanita-wanita lain di dunia. Aspek yang pertama adalah keimanan dan ibadah. Tentunya, seorang wanita shalihah memiliki tingkat keimanan yang lebih tinggi dan keimanan itu akan tampak dari caranya beribadah, akhlaknya, hatinya, pemahamannya tentang kehidupan, hingga fisiknya. Ada banyak buku yang menggambarkan ciri-ciri wanita shalihah. Dan saya pribadi ingin memulainya dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu seperti hal-hal di bawah ini.
1. Ibadah wanita shalihah.
Pastinya, ia bukanlah sembarang wanita. Ia adalah wanita yang menjaga wudhunya, menyegerakan ibadah wajibnya, dan menghiasi kesehariannya dengan ibadah-ibadah sunnah. Seluruh aktivitasnya diawali dengan bismillahirrahmaanirrahiim dan diakhiri dengan alhamdulillah, suatu perkataan yang mencerminkan niat melakukan sesuatu dengan sungguh-sungguh karena Allah.
2. Akhlak wanita shalihah.
Perkataannya terjaga, tidak berkata kasar dan terhindar dari hal-hal sia-sia. Memuliakan orang lain, khususnya saudara seiman, dengan ucapan salam ketika bertemu, menjabat erat untuk menggugurkan dosa-dosa, dan memberikan sedekah senyum bagi siapa saja yang bertemu dengannya.
3. Hati wanita shalihah.
Mendahulukan husnudzan kepada orang lain. Hanya mengharap cinta dan keridhaan Allah, lebih dari mengharap cinta laki-laki shalih manapun. Dan hal tersebut akan tercermin dari caranya menundukkan pandangan ghadhul bashar, tidak berkhalwat atau berdua-duaan dengan lawan jenis, menjaga jarak, serta tidak juga memberikan harapan bagi laki-laki yang menyukainya kecuali jika laki-laki tersebut melamarnya. Dan sudah pasti, tidak pacaran. Baik secara status, maupun secara perbuatan. Karena banyak lho, muslimah yang terjebak pacaran tanpa status.
4. Pemahaman wanita shalihah tentang kehidupan.
Satu hal, sederhana saja, seorang wanita shalihah tidak pernah merasa dirinya shalihah. Ia akan selalu merasa kurang cukup sehingga ia tidak pernah berhenti belajar dan mendewasa, menyarikan hikmah-hikmah dari setiap kejadian, pemahaman akan kehidupan. Hal tersebut dilakukannya semata-mata karena Allah untuk meningkatkan kualitas diri sebagai hambaNya. Keinginan meningkatkan kualitas diri itu juga akan tercermin dari kebiasaannya yang selalu bermuhasabah, introspeksi diri di penghujung hari, sebelum memulai hari yang baru. Atau bahkan di setiap langkahnya menjalani hari. Wanita shalihah juga merupakan sosok muslimah yang mampu mandiri di kehidupannya, tidak bergantung pada orang lain termasuk orang tua. Percayalah, bergantung kepada selain Allah biasanya dapat menghambat orang tersebut untuk mendewasa dan belajar banyak hal dari kehidupan.
5. Fisik wanita shalihah.
Ya, keimanannya yang tinggi kepada Allah dapat dilihat dari fisiknya yang terbalut hijab. Persoalan hijab bukanlah pilihan seperti yang didengung-dengungkan kaum liberalis dalam perkara hak asasi manusianya. Bukan sama sekali. Itu adalah persoalan keimanan, seberapa taatnya seorang muslimah mampu menundukkan nafsu diri untuk mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.

“Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya ..” – QS. An-Nuur: 31

Meskipun hijab adalah identitas muslimah, namun, tidak semua yang berhijab bisa disebut sebagai wanita shalihah. Ada syarat-syarat tertentu yang menentukan kualitasnya, maka perhatikanlah cara mereka berhijab. Yang pertama, hijabnya memenuhi syari’at, yaitu jilbabnya menutupi kepala (rambut) dan dada, tidak transparan, tidak memerlihatkan bentuk tubuh, serta tidak berwarna mencolok. Yang kedua, perhatikan bagaimana kebersihan dan kerapian hijabnya. Kalau masih berantakan, kalau warna baju dan roknya masih tidak serasi, itu perlu dipertanyakan. Apalagi, jika tercium bau-bau yang menimbulkan perasaan aneh, baik bau badan yang mencerminkan kurangnya kebersihan jasmani ataupun harum wewangian yang pemakaiannya berlebihan.
Hijb wanita shalihah, sederhana, tetapi indah saat dipandang. Hijab wanita shalihah, sederhana, menentramkan kala ditatap.
Menjadi wanita yang lebih cantik dari bidadari surga sejatinya memang tidak akan pernah terasa mudah khan? Ada banyak hal dari diri kita yang bahkan masih jauh dari gambaran-gambaran mengenai wanita shalihah. Tapi sejatinya, persoalan shalihah adalah bukan semata-mata apakah kita sudah menjadi shalihah atau siapa yang lebih shalihah, tetapi siapa yang senantiasa memantaskan dirinya untuk menjadi wanita shalihah itulah yang insyaAllah shalihah.
Semoga kita, aku dan kamu dan seluruh muslimah di dunia menjadi salah satu perhiasan dunia yang paling cantik, yang Allah ridhai untuk mengalahkan kemuliaan para bidadari.
Wallahu a’lam bishshawwab.

SURAT CINTA


“There is nothing better for two who love each other than marriage.”



Allah, Kau Maha Tahu hambaMu ini dhaif. Maka kuatkanlah, hingga tiba saatnya.
Allah, Kau Maha Tahu isi hati. Maka, jagalah. Jagalah, jika pilihan hatiku benar.
Jagalah, jika pilihan hatinya benar. Namun jika tidak, jauhkanlah.
Allah, aku tidak tahu apakah ini benar .. Tetapi, aku mengaguminya.
Dan porsinya-aku harap, tidak melebihi porsi cinta padaMu.
Jika memang aku adalah untuknya dan dia adalah untukku, maka bimbinglah.
Terangi jalannya menuju kebaikan,
Dengan kebijakan, kebajikan, ketegaran,
seperti Kau membimbingku.
Allah, Engkau sungguh adalah Maha Pengampun dan Pemberi Rahmat.
Maka ampunilah, saat-saat kami ingkar, saat-saat kami dusta,
saat-saat kami lupa kepadaMu.
Allah, Engkau sungguh adalah Maha Penyayang, Maha Pembolak-balik hati.
Maka sisipkanlah rasa cinta di hatiku dan hatinya
beserta cinta atasMu.
Maka tundukkanlah hatiku dan hatinya pada satu cinta untukMu.

Itu doaku. Tadinya. Kini agak berbeda,

Allah, Kau Maha Tahu hambaMu ini dhaif. Maka kuatkanlah, hingga tiba saatnya aku layak menjalin hubungan yang halal karenaMu.
Allah, Kau Yang Maha Merajai hati, Yang Maha Kuasa membolak-balik hati,
Maka bimbinglah, bimbinglah aku mencintaiMu.
Terangilah hatiku dengan cahayaMu yang Maha Terang.
Luruhkanlah noda-noda lain, dosa-dosa dari perbuatan-perbuatan menyekutukan cinta hanya kepadaMu.
Hapuskanlah nama-nama lain, selain namaMu.
Penuhilah hatiku dengan rasa penghambaan, mengabdi hanya kepadaMu dan agamaMu.
Penuhilah hatiku dengan rasa penghambaan, mencintai RasulMu dan mengikuti apa-apa yang menjadi teladan dari sosoknya.
Penuhilah hatiku dengan rasa penghambaan, menjadi agen Islam yang baik, yang bisa menunjukkan pada dunia keindahan tauhid kepadaMu.
Penuhilah hatiku dengan rasa pengabdian, berbakti penuh pada orang tua yang mencintaiku setulus jiwa mereka, yang tanpa lelah mendidikku sedari kecil telah mengenalkan aku pada asmaMu.
Allah, sungguh Engkau adalah Yang Maha Penakluk hati, juga Yang Maha Kuasa mempertemukan dua insan dalam jalan menuju ridhaMu.
Engkau adalah Yang Menciptakan makhlukMu berpasang-pasangan.
Engkau adalah juga Yang Maha Memenuhi Janji.
JanjiMu untuk menjadikan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula),
maka bimbinglah aku untuk menjadi wanita shalihah,
wanita yang paling baik untuk laki-laki yang akan menjadi imamku nanti,
bimbinglah aku untuk menjadi wanita yang paling layak untuk laki-laki yang akan menjadi sahabatku dalam mencari keridhaanMu,
bimbinglah aku untuk menjadi wanita yang layak mendapatkan laki-laki yang mampu menjadi pasangan akhiratku,
bimbinglah aku untuk menjadi wanita yang siap mendidik generasi-generasi Islam selanjutnya, yang siap menjadi tempat menyemai benih laki-laki yang kecintaannya padaMu mengalahkan cinta pada sesuatu apapun,
bimbinglah aku untuk melihat, mendengar, mengatakan, melakukan perbuatan yang sesuai dengan kacamataMu,
agar aku bisa mencintai ia yang Kau cintai,
ia yang mencintaiMu,
serta agar ia juga bisa mencintaiku atas dasar kecintaannya padaMu.
Sehingga kelak dengan menjalani hari-hari bersamaku, ia terus-menerus merasakan cintaMu, sehingga kelak hanya dengan memandangku, ketentraman memenuhi jiwanya.
Maka bimbinglah hamba, ya Allah ..
Karena tanpa bimbinganMu, tanpa penerangan dariMu,
hamba adalah makhluk paling lemah yang keberadaannya lebih kecil dari sebuah titik di semesta.
Karena tanpa bimbinganMu, hamba tidak punya daya apapun untuk menyusuri jalan kehidupan.
Karena tanpa bimbinganMu, uluran kasihMu, curahan cintaMu, hamba pasti sudah terjerumus dalam lubang penuh kegelapan tempat manusia yang merugi berkumpul.
Karenanya, ya Allah,
hamba berserah diri padaMu, wahai Rabb Pencipta alam.


Ya, sedikit banyak doaku memang berubah.