Juni 27, 2011
Maret 03, 2011
Serah
Ketika rasa di awang-awang
Dalam penantian,
menunggu di ambang
Nyaris hilang,
jatuh melayang
di titik akhir yang gersang
Ketika waktu melambat
Dan arah kian sesat,
hati yang lepas tambat,
langkah melambat,
tak lagi tepat,
tak lagi melesat,
menyimpan penat
Dalam penantian,
menunggu di ambang
Nyaris hilang,
jatuh melayang
di titik akhir yang gersang
Ketika waktu melambat
Dan arah kian sesat,
hati yang lepas tambat,
langkah melambat,
tak lagi tepat,
tak lagi melesat,
menyimpan penat
Februari 25, 2011
Tentang Mereka, Tentang Hidupku (Part 1 - Umi)
Di senja malam ini, di antara pekik elang, izinkan aku menuang rasa.
UMI
Siapakah yang ada di sampingku ketika aku pertama kali merangkak dan berjalan?
Siapakah yang rela terjaga dan bermalam di tepi pembaringan rumah sakit kala aku terbaring kaku tanpa kepastian?
Dan siapa yang begitu banyak mengeluarkan air mata untuk hidup dan matiku?
Darinya, aku melihat banyak hal. Tentang nilai moral dan arti kehidupan. Darinya aku membaca dunia dan melihat kehidupan.
Satu kata yang dapat melukis tentangnya: Dia sederhana. Dunia tak membuatnya silau.
Dulu, ketika baru menikah dengan Abi, Umi rela tinggal dikontrakan yang lebih mirip untuk disebut gubuk. Dinding rumah mereka terbuat dari setengah anyaman bambu-setengah tembok. Mereka tidur di bawah atap yang bagian tengahnya menganga dan menyisakan celah sempit. Tempat bintang mengintip mereka dengan sinarnya. Sekaligus juga tempat derai hujan jatuh dan menggenang.
Dan dia dengan sabar setia di sisi Abi. Di saat wanita lain menginginkan harta, merongrong suami mereka.
Umiku ikhlas menerima keadaan, semiskin apapun Abi saat itu.
UMI
Siapakah yang ada di sampingku ketika aku pertama kali merangkak dan berjalan?
Siapakah yang rela terjaga dan bermalam di tepi pembaringan rumah sakit kala aku terbaring kaku tanpa kepastian?
Dan siapa yang begitu banyak mengeluarkan air mata untuk hidup dan matiku?
Darinya, aku melihat banyak hal. Tentang nilai moral dan arti kehidupan. Darinya aku membaca dunia dan melihat kehidupan.
Satu kata yang dapat melukis tentangnya: Dia sederhana. Dunia tak membuatnya silau.
Dulu, ketika baru menikah dengan Abi, Umi rela tinggal dikontrakan yang lebih mirip untuk disebut gubuk. Dinding rumah mereka terbuat dari setengah anyaman bambu-setengah tembok. Mereka tidur di bawah atap yang bagian tengahnya menganga dan menyisakan celah sempit. Tempat bintang mengintip mereka dengan sinarnya. Sekaligus juga tempat derai hujan jatuh dan menggenang.
Dan dia dengan sabar setia di sisi Abi. Di saat wanita lain menginginkan harta, merongrong suami mereka.
Umiku ikhlas menerima keadaan, semiskin apapun Abi saat itu.
When I failed again
Waktu terus berlalu
Tak peduli aku
Tertatih menunggu
Menyusuri sudut pilu
Aku hilang asa
Tak lagi mengarah
Cinta dan benci bercampur luka
Tak berbeda keduanya
Aku di sini, mesiu.
Koyakkan aku, pintaku
Agar tak lagi
Ku rasa payah ini
Aku di sini,
mengubur mimpi
Menanam benci,
terpendam dan pelik
Kini 'kan terurai,
tumbuh kian besar
Tak peduli aku
Tertatih menunggu
Menyusuri sudut pilu
Aku hilang asa
Tak lagi mengarah
Cinta dan benci bercampur luka
Tak berbeda keduanya
Aku di sini, mesiu.
Koyakkan aku, pintaku
Agar tak lagi
Ku rasa payah ini
Aku di sini,
mengubur mimpi
Menanam benci,
terpendam dan pelik
Kini 'kan terurai,
tumbuh kian besar
Langganan:
Postingan (Atom)
